Pada waktu aku masih kecil, sebotol teh sosro adalah sebuah barang yang mewah untuk ukuran anak seorang pegawai negeri sipil golongan rendah seperti bapakku. Walaupun hanya pegawai rendah tapi bapak memiliki keinginan kuat untuk memiliki rumah sendiri, mengingat rumah yang kami tempati pada saat itu (masih sampai sekarang) adalah rumah dinas milik negara, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai gudang, karena memang rumah kami itu adalah gudang yang ruang dalamnya dibentuk sedemikian rupa dengan sekat-sekat triplek agar terbentuk sebuah ruang tamu, ruang keluarga, dan dua buah kamar tidur.
Seingatku bapak mengambil KPR BTN untuk sebuah rumah kecil tipe 36 di Perumnas Simalingkar, daerah pinggiran kota Medan. Kembali ke teh botol, pengalaman yang paling berkesan adalah saat bapak mengajakku melihat rumah, walau lebih tepatnya di sana kami bukan hanya melihat tapi juga mencangkuli tanah samping rumah untuk membentuk jalan masuk ke pekarangan. Kontur tanah di blok rumahku itu berundak-undak mungkin jika dilihat dari udara berbentuk seperti lahan persawahan punden berundak yang ada dilahan perbukitan. Jalanan berada di bawah rumah kami, jadi akses dari jalanan ke rumah dan sebaliknya yang disediakan pihak perumnas hanyalah sususan tangga batu, hal ini tentu akan sangat menyulitkan bapak untuk menyimpan sepeda motornya.
Oleh sebab itulah tanah di samping rumah itu dicangkul, untuk membentuk jalanan landai, sebuah tanjakan yang menghubungkan halaman rumah dengan jalan besar. Pada waktu itu, hampir tiap Ahad pagi bapak mencangkuli tanah samping rumah dan aku bertugas memindahkan tanah hasil cangkulan itu untuk menimbun bagian halaman yang sering tergenang air, menjelang siang baru kami berhenti mungkin sekitar jam 10 karena matahari saat itu mulai menyengat, dan inilah saat yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang kegiatan di sana. Istirahat di sebuah kedai kecil depan rumah.
Bapak selalu membelikan aku sebuah teh botol, sebuah minuman langka dan mewah bagiku, mungkin di sanalah tempat pertamaku meminum sebuah teh botol, rasanya sungguh nikmat, wangi, manis dengan sedikit rasa pahit khas teh plus sebuah botol dengan bentuk yang aneh, terpikir saat itu “paling tidak aku juga bisa merasakan dan ikut mengerti jika suatu saat guru atau teman-temanku di sekolah bercerita tentang teh botol” hehehe. Walaupun pada saat pertama kali ditawari, aku bingung karena memikirkan harga teh botol yang mewah itu pasti mahal, kasihan bapak harus mengeluarkan uang banyak untuk membelikan aku minum, tapi bapak meyakinkanku bahwa aku pantas mendapatkannya. Alhamdulillah jika memang ada rejeki aku selalu dibelikan teh botol setiap kali selesai membantu bapak melandaikan tanah di sana.
Sekarang, rumah itu sudah bukan milik kami lagi, sampai saat terjualnya, rumah itu tidak pernah kami tempati, tapi bukan berarti tidak ada yang menempati, rumah itu sempat dikontrakkan kepada sekelompok mahasiswi berjilbab besar, belum pernah aku melihat jilbab sebesar itu selain di pesantren kakakku.
Hari ini aku mengerti kenapa meminum teh botol pada saat itu sungguh nikmat dan berkesan, kenikmatan yang tak pernah sama karena perjuangan, kekhawatiran, keprihatinan dan penantian yang panjang telah membuat sesuatu yang biasa menjadi begitu istimewa.
Gelap terasa memenjarakan 